PERKEMBANGAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO AGRIBISNIS (LKM A) DAN ADOPSI TEKNOLOGI KENTANG PADA PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PEDESAAN (PUAP) (Studi Kasus di Kabupaten Solok, Sumatera Barat)
Ade Supriatna(1*)(1) 
(*) Corresponding Author
Abstract
Dalam kondisi modal lemah, proses adopsi teknologi oleh petani akan berjalan kurang optimal dan terjadi
beberapa komponen teknologi yang terbuang percuma (idle). Menyadari masalah tersebut, Kementrian pertanian
mulai tahun 2008 telah melaksanakan program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) di 33
Provinsi di Indonesia. Pemerintah memberikan bantuan modal usaha berupa Bantuan Langsung Mandiri (BLM)
sebanyak Rp.100 juta yang diberikan dan dikelola melalui Gapoktan selain itu juga dilakukan pembinaan
peningkatan adopsi inovasi teknologi dan kelembagaan. Pada tahun pertama dana dikelola oleh Gapoktan
melalui Usaha Simpan Pinjam (USP) dan selanjutnya diharapakan dikelola melalui Lembaga Keuangan Mikro
Agribisnis (LKM A) dengan syarat dananya dapat berkembang sebanyak 15 persen. Kegiatan ini dilaksanakan
tahun 2010 dan berlokasi di Propinsi Sumatera Barat. Tujuan kajian: (a) mengetahui perkembangan jumlah
LKM-A, (b) mengetahui cara pengelolaan bantuan modal BLM PUAP di tingkat Gapoktan, dan (c) mengetahui
keragaan adopsi teknologi. Hasil menunjukan, bahwa Program PUAP di Provinsi Sumatera Barat sudah
mencapai 429 Gapoktan yang tersebar ke 15 kabupaten. Dari total 429 Gapoktan, sudah terbentuk 103 LKM-A
atau 24 persen dari total Gapoktan. Pengelolaan modal oleh Gapoktan sudah sesuai petunjuk dan diputuskan
berdasarkan hasil musyawarah antara pengurus dan anggota Gapoktan. Selama ini, adopsi inovasi teknologi
belum menunjukan kemajuan sementara adopsi inovasi kelembagaan sudah cukup berhasil, terutama dalam
mengelola modal. Untuk meningkatkan keberhasilan, program PUAP masih memerlukan beberapa perbaikan,
terutama perbaikan Sumber Daya Manusia dan inovasi teknologi spesifik lokasi. Untuk itu, memerlukan
dukungan dari berbagai Dinas/Instansi teknis terkait dan dukungan kebijakan pemerintah baik pusat maupun
daerah.
Kata kunci: LKM-A, adopsi innovasi, Sumatra Barat
.
ABSTRACT
In the low capital condition, the process of technology adoption by farmers will run less than optimal
and there are some innovations that are wasted (idle). In 2008, Ministry of agriculture has been implementing
the program of Rural Agribusiness Development (RAD) in Rural Area.Through the program RAD, the Farmers
Groups Association (FGA) was given the capital grand as much as 100 million per FGA. This studi was
conducted in 2010 and located in West Sumatera. Research objectives are (a) to know the development of the
Micro Credit Institution for Agribussiness (MCI-A), (b) to know the management of capital grand in the FGD,
and (c) to know the performance of technologi adoption. Result showed, that the program of Rural Agribusiness
Development (RAD) in in West Sumatera have reached 429 of Farmers Groups Association, distributed in 15
Districts, and resulted 103 of Micro Credit Institution for Agribussiness or 24 percents of total.The management
of Capital by FGA was appropriate and decided by the results of discussions between officials and members of
FGA. During this time, the adoption of potatos technology has not shown progress while the adoption of
institutional innovation has been quite successfully, especially in managing capital. The RAD program still
needs some improvement, particularly improvement of human resources and site-specific technological
innovations. For that, need support from various technical offices/agencies and policy support both central and
local government.
Key words: LKM-A, innovation adoption, West Sumatra
beberapa komponen teknologi yang terbuang percuma (idle). Menyadari masalah tersebut, Kementrian pertanian
mulai tahun 2008 telah melaksanakan program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) di 33
Provinsi di Indonesia. Pemerintah memberikan bantuan modal usaha berupa Bantuan Langsung Mandiri (BLM)
sebanyak Rp.100 juta yang diberikan dan dikelola melalui Gapoktan selain itu juga dilakukan pembinaan
peningkatan adopsi inovasi teknologi dan kelembagaan. Pada tahun pertama dana dikelola oleh Gapoktan
melalui Usaha Simpan Pinjam (USP) dan selanjutnya diharapakan dikelola melalui Lembaga Keuangan Mikro
Agribisnis (LKM A) dengan syarat dananya dapat berkembang sebanyak 15 persen. Kegiatan ini dilaksanakan
tahun 2010 dan berlokasi di Propinsi Sumatera Barat. Tujuan kajian: (a) mengetahui perkembangan jumlah
LKM-A, (b) mengetahui cara pengelolaan bantuan modal BLM PUAP di tingkat Gapoktan, dan (c) mengetahui
keragaan adopsi teknologi. Hasil menunjukan, bahwa Program PUAP di Provinsi Sumatera Barat sudah
mencapai 429 Gapoktan yang tersebar ke 15 kabupaten. Dari total 429 Gapoktan, sudah terbentuk 103 LKM-A
atau 24 persen dari total Gapoktan. Pengelolaan modal oleh Gapoktan sudah sesuai petunjuk dan diputuskan
berdasarkan hasil musyawarah antara pengurus dan anggota Gapoktan. Selama ini, adopsi inovasi teknologi
belum menunjukan kemajuan sementara adopsi inovasi kelembagaan sudah cukup berhasil, terutama dalam
mengelola modal. Untuk meningkatkan keberhasilan, program PUAP masih memerlukan beberapa perbaikan,
terutama perbaikan Sumber Daya Manusia dan inovasi teknologi spesifik lokasi. Untuk itu, memerlukan
dukungan dari berbagai Dinas/Instansi teknis terkait dan dukungan kebijakan pemerintah baik pusat maupun
daerah.
Kata kunci: LKM-A, adopsi innovasi, Sumatra Barat
.
ABSTRACT
In the low capital condition, the process of technology adoption by farmers will run less than optimal
and there are some innovations that are wasted (idle). In 2008, Ministry of agriculture has been implementing
the program of Rural Agribusiness Development (RAD) in Rural Area.Through the program RAD, the Farmers
Groups Association (FGA) was given the capital grand as much as 100 million per FGA. This studi was
conducted in 2010 and located in West Sumatera. Research objectives are (a) to know the development of the
Micro Credit Institution for Agribussiness (MCI-A), (b) to know the management of capital grand in the FGD,
and (c) to know the performance of technologi adoption. Result showed, that the program of Rural Agribusiness
Development (RAD) in in West Sumatera have reached 429 of Farmers Groups Association, distributed in 15
Districts, and resulted 103 of Micro Credit Institution for Agribussiness or 24 percents of total.The management
of Capital by FGA was appropriate and decided by the results of discussions between officials and members of
FGA. During this time, the adoption of potatos technology has not shown progress while the adoption of
institutional innovation has been quite successfully, especially in managing capital. The RAD program still
needs some improvement, particularly improvement of human resources and site-specific technological
innovations. For that, need support from various technical offices/agencies and policy support both central and
local government.
Key words: LKM-A, innovation adoption, West Sumatra
Full Text:
PDFRefbacks
- There are currently no refbacks.

